Apa kabar anak-anak kelas 6? Semoga semuanya sehat ya
Untuk kewalikelasan hari ini, silahkan baca kisah di bawah ini ya, lalu tuliskan hikmahnya pada buku catatan aktivitas harian kalian.
Terimakasih. Wassalamualaikum
Judul : Kisah semangkuk bakso
Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun
Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan
kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja
makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanan kesukaannya
tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.
“Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku.
Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh
keterlaluan,” gerutunya dalam hati. “Ini semua pasti gara-gara adinda
sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku.
Dasar anak manja!”
Ditunggu sampai siang, tampaknya orang
serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat,
ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.
Dengan perasaan marah dan sedih, Putri
pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang
dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati
sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri
sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas
semangkuk bakso.
“Mau beli bakso, neng? Duduk saja di dalam,” sapa si tukang bakso.
“Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang,” jawabnya tersipu malu.
“Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi bakso yang super enak.”
Putri pun segera duduk di dalam.
Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, “Lho, kenapa menangis, neng?” tanya si abang.
“Saya jadi ingat ibu saya, nang.
Sebenarnya… hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya
kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang
tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa,
bang.”
“Neng cantik, abang yang baru sekali aja
memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu
dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai
segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua
sendiri neng, ntar nyesel lho.”
Putri seketika tersadar, “Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?”
Setelah menghabiskan makanan dan berucap
banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya
menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega,
“Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu
tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya.
Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan?
Ayo nikmati semua itu.”
“Ibu, maafkan Putri, Bu,” Putri pun
menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Putri semakin
menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan
paman serta bibinya. Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk
putri kesayangannya.
Saat kita mendapat pertolongan atau menerima pemberian sekecil apapun dari orang lain, sering kali kita begitu senang dan selalu berterima kasih. Sayangnya, kadang kasih dan kepedulian tanpa syarat yang diberikan oleh orangtua dan saudara tidak tampak di mata kita. Seolah menjadi kewajiban orangtua untuk selalu berada di posisi siap membantu, kapan pun.
Bahkan, jika hal itu tidak terpenuhi, segera kita memvonis, yang tidak sayanglah, yang tidak mengerti anak sendirilah, atau dilanda perasaan sedih, marah, dan kecewa yang hanya merugikan diri sendiri. Maka untuk itu, kita butuh untuk belajar dan belajar mengendalikan diri, agar kita mampu hidup secara harmonis dengan keluarga, orangtua, saudara, dan dengan masyarakat lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar