Senin, 20 Juli 2020

Senin, 20 Juli 2020: dongeng kerbau dan kancil

Fajar mulai menjelang, Matahari bangun menampakkan sinar, dan merah shubuh pun mulai terlihat. Kabut putih mulai menipis, Dingin mulai lari, Ayam berkokok bersahutan, dan Adzan subuh pun berkumandang di berbagai penjuru negeri.

Sementara itu di sebuah semak belukar, dekat perkebunan penduduk desa, sang Kancil masih malas untuk bangun pagi. Dia baru terjaga dari tidurnya.

“Hmmmh, hari ini saya harus pergi sekolah. Belajar bermacam ilmu dan pengetahuan. Duh, masih males…,” gumam Kancil lalu beranjak dari tempat tidurnya. Kemudian dia dengan cepat menuju sungai kecil dekat rumahnya untuk segera mandi. Tak lupa setelah beres mandi dan sholat subuh dia membersihkan tempat tidurnya. Sementara ibu Kancil sudah siap dengan sarapan pagi, sepiring ketimun kesukaan anaknya sang Kancil-unyil. Ya, Kancil-unyil nama lengkap anaknya.

“Assalamu’alaikum,” terdengar salam dari Kerbau-keribo, teman Kancil-unyil, di depan rumah.

“Wa’alaikum salam,” jawab ibu Kancil.

“Hai Kerbau, mari masuk dulu. Si Kancil sedang sarapan tuh, ayo ikutan…” ajak ibu Kancil kepada Kerbau.

“Makasih Bu, saya sudah sarapan sekeranjang besar rumput segar, tadi di rumah,” jawab Kerbau.

“Kerbau, sebentar ya saya ambil tas sekolah saya dulu,” ucap Kancil yang sudah beres sarapan.

Kemudian dua sahabat karib itu pun berangkat sekolah, berjalan kaki dengan riangnya. Melintas hutan, menyebrang sungai, melewati sawah, ladang hingga sampai di sekolah mereka.

Di sekolah mereka bertemu teman-teman lainnya. Ada Monyet, Kura-kura, Kucing, Tikus, Harimau, Siput, dan Buaya. Mereka semua belajar dalam kelas yang sama. Setelah waktunya tiba, belajar pun dimulai. Mereka diajari oleh Bu Guru mereka yang pandai dan bijak, Bu Gajah namanya.

Pulang sekolah, Kancil dan Kerbau pun pulang bersama. Di kala Mentari sedang terik-teriknya, rupanya sang Kancil kelelahan dan merasa lapar di perjalanan. Kerbau pun sudah mulai kepanasan.

“Kita istirahat dulu yuk di situ tuh,” ajak Kancil pada Kerbau sambil menunjuk tempat rindang dekat pematang sawah tempat mereka jalan kaki. Kerbau pun setuju.

“Cil, saya juga mau ngadem dulu ya di kubangan itu tuh,” kata Kerbau terus menuju kubangan lumpur dekat Kancil istirahat.

Sambil istirahat di bawah pohon rindang, rasa lapar makin menjadi. Ingin rasanya dia sampai ke rumah, tapi jarak masih jauh. Diapun membayangkan ketimun segar makanan kesukaannya. Terus kemudian berpikir, bagaimana caranya dia mendapatkan ketimun tersebut. Pikiran “cerdik” tapi nakal mulai merasuk. Sang Kancil berpikir bagaimana meminta bantuan temannya sang Kerbau untuk mengambil ketimun milik Pak Tani dekat tempatnya istirahat.

Sementara itu, sang Kerbau sambil berendam di kubangan air dan bermanja-manja membasuh tubuhnya, dia berpikir mencari pemecahan soal PR yang diberikan oleh Bu Gajah tadi pagi.

Kerbau berpikir keras berusaha memecahkan masalah tersebut. Karena dia ingat pesan ibunya, bahwa dia harus belajar dengan rajin agar jadi orang pandai yang berguna kelak. Tapi, setelah beberapa lama berendam dan berpikir, pemecahan soal tersebut tak kunjung ditemukan.

“Cil, PR dari Bu Gajah tadi kamu bisa engga?” tanya Kerbau, beranjak dari kubangan, dan menuju pada sang Kancil yang sedang istirahat. Kancil jawab, “Eh iya, saya belum tahu. Saya belum mikirin PR itu. Saya mikir yang lain.”

“Dari tadi saya mikir, belum bisa juga. Mungkin kalau kamu yang mikir, bisa dengan mudah soal tersebut dijawab. Itukan soal tentang Ketimun, makanan kesukaan kamu,” kata Kerbau pada Kancil.

“Ngomong-ngomong, saya lapar nih, yuk kita ngambil ketimun Pak Tani di sana tuh, ” ajak Kancil.

“Gemana caranya Cil?”

“Ah, gampang saja. Gini caranya…” kata Kancil kemudian membisik ke telinga Kerbau.

Kerbau berpikir berulang kali. Mulanya dia akan tergoda. Dan akan menuruti perkataan kancil. Tapi kemudian dia ingat pesan ibunya, bahwa dia tidak boleh nakal. Tidak boleh mencuri.

“Ngambil? Ga mau ah kalau ga bilang dulu ke Pak Tani! Kalau ngambil tanpa bilang-bilang, itu namanya mencuri, ga mau ah,” tolak Kerbau dengan tegas.


Kira-kira bagaimana ya lanjutan ceritanya? silahkan kalian tulis di kolom komentar ya bagaimana kelanjutan cerita ini menurut kalian

6 komentar:

  1. Kerbau lalu pergi meningalkan kancil
    Karna ga mau ngambil ketimun pak tani tampa bilng dulu

    BalasHapus
  2. "Ya sudah aku saja yang curi timun pak tani" kata kancil. Lalu kancil masuk kekebun pak tani dan mengambil huah ketimun itu ,ketika mau mengambil buah ketimun itu pak tani melihat kancil dan langsung menangkapnya,ketika pak tani sudah pergi kerbau membebaskan kancil ,setelah membebaskan kancil kerbau menasehati kancil "cil seharusnya kau jangan mencuri timun milik pak tani seharusnya kamu meminta ijin terlebih dahulu kepada pak tani " kata kerbau"iya aku tidak akan mencuri lagi "kata kancil.

    Hikmah: jangan mencuri karena mencuri itu perbuatan yang tercela.

    BalasHapus
  3. Si kancil nekad karena ia lapar lalu ia mengambil ketimun tanpa ijin pak petani dan akhirnya ia tertangkap basah sedang memakan mentimun pak tani dan akhirnya di kurung untuk di potong

    BalasHapus
  4. karena kecerdikan sang kancil lalu kebau pun mau menuruti sang kancil dengan membidohu kerbau,ini kan termasuk PR yang diberikan bu guru gajah,lalu sang kerbau pun menuruti semua perkataan sang kancil.

    hikmqh nya: penting nya kita menjadiborang cerdas supaya tidak di bodohi orang lain

    BalasHapus
  5. Karena ,kerbau ingat pesan ibu nya bahwa dia tidak boleh nakal dan tidak boleh mencuri kerbau pun tidak menuruti perkata an kancil ,lalu kerbau pun mengajak kancil untuk pulang saja ,jadi makan nya di rumah aja ,dan tahan rasa lapar nya

    hikmah nya:kita harus rajin belajar agar kita tidak menjadi org yg bodo dan gampang di ajak melakukan keburukkan oleh org lain,kita juga tidak boleh menjadi anak yg nakal dan suka mencuri

    BalasHapus
  6. kancil pun menjawab "ya sudah aku saja yg pergi ke kebun pak tani"kerbau pun pergi ke rumah nya untuk makan di rumah nya saja. kancil pun langsung pergi menuju kebun pak tani,dengan seketika langkah sang kancil terhenti karena melihat kebun petani yang sangat subur dan buah mentimun yang sangat lebat dan segar. Sikancil Berbicara sendiri " wah mentimun nya segar kayaknya enak kalo dimakan dan menghilangkan rasa hausku", bergegaslah si kancil mendekat kebun mentimun itu sambil mengamati di sekeliling kebun itu, "aman kayaknya " ujar sang Kancil.Tibalah di kebun Mentimun tak lama-lama lagi sangkancil mengambili mentimun yang besar dan segar-segar itu lalu di makannya, " aduh yang ini kok kurang enak ya, coba yang satu lagi kelihatan besar dan kayaknya enak dimakan", kancil mengambili mentimun-mentimun yang ada di sekitarnya. setelah kenyang dan mengambil beberapa mentimun untuk di bawa pulang kehutan kemudian si kancil pergi bergegas.

    Perbuatan itu terus di ulangi ke esokannya di pagi itu si Kancil mencuri kembali Mentimun milik Pak Tani, kemudian si kancil berbicara " Aku punya tempat makanan banyak jadi tidak usah cape-cape lagi mencari makanan kemana-mana lagi, besok saya akan kembali untuk mengambili mentimun ini" Ujar si kancil sambil Pulang dengan perut kenyang.
    Di siang harinya pak Tani datang ke kebun untuk melihat dan merawat kebun mentimun miliknya, Setelah sampai di kebun mentimun milik nya dia sangat ter kaget, karena Mentimun miliknya berserakan bekas gigitan hewan dan banyak mentimun yang hilang.

    Pak Tani sangat marah sekali melihat mentimunnya banyak yang hilang telah di curi, kemudian pak tani pun mencari akal untuk menangkap si pencuri mentimunnya tersebut, sambil istirahat dia berpikir bagai mana mencari akal untuk menangkap si pencuri tersebut.

    Setelah beberapa lama berpikir sambil beritirahat didapatkannya Ide untuk menagkap dengan jebakan Orang-orangan dengan menggunakan lem di tubuh boneka orang-orangan tersebut, Berbicara sendiri pak tani " Mudah mudahan berhasil besok saya tangkap kamu pencuri mentimun ku" ujar Pak Tani sambil kesal sendiri. Maka di buatnya boneka orang-orangan tersebut!!!!!

    hikmah:kita tiak boleh mencuri atau mengambil barang milik orang lain

    nama:bilqis ferisha putri

    BalasHapus